-
Indonet meluncurkan paket internet dedicated yang disertai akses dan AI Credit untuk platform AI miliknya mulai 14 September 2026.
-
Paket tersebut ditujukan untuk kebutuhan bisnis seperti brainstorming, penulisan, peringkasan, pembuatan gambar dan video, hingga penyusunan proposal dan materi pemasaran.
-
Indonet mengklaim menjadi ISP pertama yang menggabungkan internet dan AI Credit dalam satu paket, tetapi klaim tersebut belum ALEXA.ID temukan dukungan pembanding independennya.
Ringkasan dibuat dengan bantuan AI berdasarkan isi artikel.
ALEXA.ID — Internet bisnis kini mulai dijual bukan hanya sebagai jalur koneksi. Indonet mencoba menambah lapisan baru dengan menggabungkan layanan internet dedicated dan kredit penggunaan kecerdasan buatan dalam satu paket.
PT Indointernet Tbk atau Indonet resmi menawarkan layanan tersebut mulai 14 September 2026. Pelanggan internet tertentu dapat memperoleh akses ke platform AI Indonet beserta AI Credit tanpa biaya tambahan, mengikuti paket dan ketentuan yang berlaku.
Pada halaman resminya, Indonet menawarkan lebih dari 250 juta credit pada paket tertentu. Kredit itu dapat digunakan untuk mengakses fungsi AI seperti chatbot, pembuatan gambar, hingga video.
Langkah ini memperlihatkan satu perubahan menarik dalam bisnis konektivitas: ISP mulai mencoba bergerak dari sekadar menjual bandwidth menuju paket yang langsung menyentuh kebutuhan kerja berbasis AI.
Internet dan AI Mulai Dijual dalam Satu Paket
Selama ini, perusahaan biasanya membeli konektivitas internet dan layanan AI secara terpisah.
Indonet mencoba menggabungkan keduanya.
Melalui paket Internet + AI, pelanggan mendapatkan koneksi dedicated sekaligus akses ke platform AI milik Indonet. Perusahaan menyebut layanan AI tersebut dapat digunakan untuk brainstorming, menulis, merangkum informasi, mencari ide, membuat gambar, hingga menghasilkan video.
Untuk kebutuhan bisnis, fungsi yang ditampilkan cukup luas.
Tim operasional dapat menggunakannya untuk membantu meringkas informasi dan membuat dokumen. Tim marketing diarahkan pada brainstorming, caption, ide kampanye, gambar, serta video. Sementara fungsi sales mencakup penyusunan proposal, presentasi, dan materi komunikasi penjualan.
Dengan pendekatan tersebut, AI tidak lagi ditempatkan sebagai produk terpisah.
Ia ikut masuk ke paket konektivitas.
Indonet Mengklaim Jadi ISP Pertama dengan Model Ini
Dalam materi peluncurannya, Indonet menyebut diri sebagai Internet Service Provider pertama yang memperkenalkan bundling internet dan AI Credit.
ALEXA.ID belum menemukan sumber independen yang membandingkan seluruh layanan ISP di Indonesia untuk memastikan klaim “pertama” tersebut.
Karena itu, klaim tersebut perlu dibaca sebagai pernyataan perusahaan, bukan fakta industri yang sudah diverifikasi secara independen.
Yang dapat dikonfirmasi dari situs resminya adalah Indonet memang telah membuat layanan Internet + AI sebagai bagian dari portofolio produknya, berdampingan dengan layanan konektivitas, data center, dan cloud.
Kenapa ISP Mulai Membawa AI ke Paket Internet?
Pergeseran ini tidak terjadi di ruang kosong.
Penggunaan AI di tempat kerja Indonesia memang meningkat.
PwC Global Workforce Hopes & Fears Survey 2025 menemukan 69% pekerja Indonesia yang disurvei telah menggunakan AI untuk pekerjaannya dalam 12 bulan terakhir. Namun, penggunaannya secara rutin masih jauh lebih kecil: 16% menggunakan GenAI setiap hari dan 8% memakai agentic AI setiap hari.
Angka ini penting karena menunjukkan dua hal sekaligus.
AI sudah masuk ke lingkungan kerja, tetapi belum menjadi kebiasaan harian bagi sebagian besar pekerja.
Artinya, hambatan adopsinya belum selesai.
Akses, biaya, kemampuan menggunakan teknologi, kebijakan perusahaan, dan relevansi terhadap pekerjaan masih menjadi faktor.
96 Persen Pengguna Harian Merasakan Produktivitas Naik
Indonet juga mengutip data PwC untuk memperkuat alasan bisnis di balik paket tersebut.
Angka itu memang dapat diverifikasi.
PwC melaporkan 96% pengguna GenAI harian di Indonesia yang menjadi responden survei menyatakan produktivitas mereka meningkat. Sebagai perbandingan, angka tersebut berada di 75% pada kelompok pengguna yang jarang memakai GenAI.
Namun, angka 96% tidak berarti 96% seluruh pekerja Indonesia mengalami peningkatan produktivitas karena AI.
Basisnya adalah kelompok responden yang sudah memakai GenAI setiap hari.
Survei PwC melibatkan hampir 50.000 pekerja secara global, termasuk 812 responden dari Indonesia, yang tersebar di 48 negara atau wilayah dan 28 sektor.
Konteks ini penting agar angka produktivitas tidak dibaca terlalu luas.
Indonet Ingin AI Masuk ke Rutinitas Kerja
Presiden Direktur Indonet sekaligus CEO Indonesia Group Digital Edge, Donauly Situmorang, melihat konektivitas dan AI mulai berjalan beriringan dalam aktivitas bisnis.
“Internet dan AI semakin tidak terpisahkan dalam aktivitas bisnis. AI membantu pelanggan menghasilkan ide dan pekerjaan dengan lebih cepat, sementara konektivitas menjadi fondasi agar proses tersebut dapat berjalan dengan lancar. Melalui layanan ini, kami menghadirkan keduanya dalam satu penawaran yang lebih praktis bagi pelanggan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan positioning yang dipilih Indonet.
Perusahaan tidak menempatkan AI sebagai eksperimen teknologi semata, melainkan sebagai tambahan pada layanan internet bisnis.
Direktur Sales & Marketing Indonet, Yudie Haryanto, mengatakan perusahaan ingin membuat pelanggan lebih mudah mengeksplorasi AI.
“Melalui solusi ini, kami berharap semakin banyak bisnis dapat mengeksplorasi pemanfaatan AI untuk kebutuhan mereka. Kami ingin membuat akses terhadap konektivitas dan AI menjadi lebih praktis, sehingga pelanggan dapat lebih leluasa mengembangkan cara kerja dan ide-ide baru,” katanya.
250 Juta Credit, tetapi Nilai Pakainya Perlu Dibaca Lebih Jauh
Halaman produk Indonet saat ini menampilkan penawaran 250+ juta credit untuk akses AI pada paket internet tertentu.
Angka sebesar itu terlihat menarik.
Tetapi credit dalam layanan AI bukan satuan yang bisa langsung dibandingkan dengan rupiah, token model AI, jumlah prompt, atau menit penggunaan video tanpa mengetahui struktur pemakaiannya.
Nilai praktisnya akan bergantung pada berapa credit yang dikonsumsi setiap fitur.
Satu permintaan teks bisa memiliki biaya berbeda dibanding pembuatan gambar atau video.
Karena itu, calon pelanggan bisnis sebaiknya tidak hanya melihat jumlah credit.
Yang lebih relevan adalah berapa banyak pekerjaan nyata yang dapat dilakukan dengan jatah tersebut, apakah credit memiliki masa berlaku, fitur apa saja yang termasuk, serta apa yang terjadi setelah kuota habis.
Informasi rinci seperti itu menjadi penting ketika AI berubah dari bonus pemasaran menjadi bagian dari workflow perusahaan.
Ada Pertanyaan soal Data dan Privasi
Ketika AI dibundel dengan layanan bisnis, pertanyaannya tidak berhenti pada kemampuan membuat gambar atau merangkum dokumen.
Perusahaan juga perlu melihat bagaimana data diproses.
Misalnya, apakah percakapan pengguna disimpan, model AI apa yang digunakan, apakah data pelanggan digunakan untuk pelatihan model, di mana data diproses, serta siapa saja yang memiliki akses terhadapnya.
Hal ini menjadi semakin penting apabila AI digunakan untuk menangani dokumen internal, data pelanggan, informasi finansial, proposal, atau materi bisnis yang belum dipublikasikan.
Halaman promosi Internet + AI Indonet yang dapat diakses ALEXA.ID menjelaskan fungsi layanan dan manfaat penggunaan, tetapi belum memuat rincian teknis mengenai model AI, arsitektur pemrosesan data, retensi percakapan, maupun kebijakan penggunaan data khusus untuk platform AI pada bagian produk yang ditampilkan.
Informasi semacam ini layak diperiksa sebelum perusahaan memasukkan platform AI ke pekerjaan sensitif.
ISP Tak Lagi Hanya Bersaing soal Kecepatan
Masuknya AI ke paket konektivitas juga memberi sinyal tentang arah persaingan ISP bisnis.
Kecepatan dan kestabilan koneksi tetap penting.
Namun, ketika layanan cloud, SaaS, kolaborasi digital dan AI semakin sering digunakan bersama, penyedia internet memiliki peluang menjual lebih dari sekadar akses jaringan.
Indonet sendiri menempatkan internet dedicated sebagai fondasi untuk cloud application, video conference, collaboration platform, dan workload digital bisnis. Perusahaan juga menawarkan konektivitas ke cloud global dan interkoneksi antardata center.
Bundling AI memperluas logika tersebut.
Internet menjadi pintunya.
Aplikasi AI menjadi nilai tambah di atasnya.
Apakah model seperti ini benar-benar meningkatkan produktivitas pelanggan nantinya akan bergantung pada lebih dari sekadar jumlah credit gratis. Harga setelah promosi, kualitas model AI, kebijakan privasi, pilihan fitur, dukungan teknis, dan seberapa mudah layanan masuk ke workflow perusahaan akan jauh lebih menentukan.
Sumber Rujukan
Indonet — halaman resmi Internet + AI Bundling Special. Indonet menawarkan internet dedicated dengan akses platform AI, lebih dari 250 juta credit pada paket tertentu, serta fitur AI Assistant, image generation, dan video generation.
PwC Indonesia — Global Workforce Hopes & Fears Survey 2025. PwC melaporkan 96% pengguna GenAI harian Indonesia dalam surveinya merasakan peningkatan produktivitas. Survei Indonesia mencakup 812 responden.
PwC — Workforce Hopes & Fears Survey 2025. Secara global, survei melibatkan hampir 50.000 pekerja di 48 negara atau wilayah dan 28 sektor.
Catatan Editor
Klaim Indonet sebagai “ISP pertama” yang menggabungkan layanan internet dan AI Credit berasal dari materi perusahaan. ALEXA.ID belum menemukan studi pasar atau data pembanding independen yang cukup untuk mengonfirmasi status “pertama” tersebut.
Halaman produk Indonet menyebut penawaran lebih dari 250 juta AI Credit pada paket tertentu, tetapi belum menjelaskan dalam bagian yang terindeks mengenai konversi credit per fitur, masa berlaku credit, model AI yang digunakan, detail retensi data, atau biaya setelah credit habis. Informasi tersebut perlu diverifikasi jika hendak dimasukkan sebagai rincian produk.





