ALEXA.ID — Kemampuan menyampaikan materi saja dinilai tak lagi cukup bagi dosen di tengah perkembangan AI di pendidikan tinggi. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, mendorong perguruan tinggi menyiapkan pendidik yang mampu menginspirasi mahasiswa, memperkuat karakter, dan membimbing penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.
Pesan itu disampaikan Arif dalam kuliah umum di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta, Kamis (10/9/2026). Ia menekankan perlunya pembaruan kurikulum, peningkatan kemampuan beradaptasi, serta penguatan kolaborasi riset untuk menghadapi perubahan yang dibawa kecerdasan buatan.
Menurut Arif, perkembangan AI dan robotik berpotensi mengambil alih berbagai pekerjaan rutin, termasuk sebagian proses pembelajaran. Karena itu, perguruan tinggi perlu memperkuat kualitas pendidikan melalui kemampuan dosen memberikan nilai tambah bagi mahasiswa.
“Guru yang bisa digantikan AI adalah guru yang biasa. Dosen yang bisa digantikan AI adalah dosen biasa. Dosen yang biasa hanya bisa menyampaikan, dosen yang baik bisa menjelaskan, tetapi dosen yang hebat bisa menginspirasi. Yang tidak bisa digantikan AI adalah dosen yang hebat,” ujar Arif.
Arah Transformasi Kampus Menghadapi AI
Peran Dosen Melampaui Penyampaian Materi
Arif menilai kehadiran AI menjadi momentum bagi perguruan tinggi untuk mengevaluasi peran pendidik. Kemudahan memperoleh informasi menuntut dosen mengembangkan pendekatan pembelajaran yang membantu mahasiswa memahami, mempertimbangkan, dan menggunakan pengetahuan.
Dalam pandangannya, sejumlah kemampuan intelektual manusia semakin banyak dapat dilakukan oleh mesin. Namun, kebijaksanaan, empati, nilai, dan pertimbangan kemanusiaan tetap perlu menjadi kekuatan pendidikan.
Penguasaan teknologi pun harus disertai tanggung jawab. Mahasiswa perlu dibekali kemampuan menilai manfaat teknologi sekaligus memahami konsekuensi penggunaannya bagi masyarakat.
Arif menekankan pentingnya learning agility, yakni kemampuan belajar dan beradaptasi secara cepat. Bekal tersebut dibutuhkan agar sumber daya manusia di perguruan tinggi mampu mengikuti perubahan teknologi dan terus mengembangkan kemampuan sepanjang hayat.
Kurikulum AI di Pendidikan Tinggi Perlu Menjawab Kebutuhan Masyarakat
Selain kualitas pendidik, Arif menyoroti perlunya pembaruan kurikulum. Materi dan proses pembelajaran perlu menyesuaikan perkembangan teknologi serta kebutuhan dunia kerja.
Mahasiswa juga perlu mendapatkan bekal untuk memanfaatkan AI dalam menghasilkan pengetahuan dan inovasi. Dengan demikian, penguasaan teknologi dapat diarahkan untuk menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Perguruan tinggi juga harus menyesuaikan kurikulumnya agar tetap relevan dengan ancaman dan peluang di era AI. Jangan sampai kita hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus mampu memanfaatkan AI untuk menghasilkan pengetahuan, inovasi, dan solusi bagi masyarakat,” katanya.
Dorongan tersebut menempatkan kemampuan beradaptasi sebagai bagian penting transformasi kampus. Pembaruan kurikulum perlu berjalan bersama peningkatan kapasitas dosen dan mahasiswa dalam menggunakan teknologi secara produktif.
Kolaborasi Riset Membuka Akses Pengetahuan dan Teknologi
Arif turut mendorong perguruan tinggi memperluas kerja sama penelitian di tingkat nasional dan internasional. Jejaring riset dinilai dapat membuka akses terhadap pengetahuan dan teknologi sekaligus memperkuat ekosistem inovasi.
“Kolaborasi global menjadi semakin penting. Perguruan tinggi perlu memanfaatkan jejaring internasional dan memperkuat kolaborasi riset untuk membangun ekosistem pemodelan berbasis AI yang kuat dan kompetitif,” ujar Arif.
Ia berharap perguruan tinggi Indonesia mengambil posisi strategis dalam perkembangan AI dengan turut menghasilkan pengetahuan dan inovasi yang berdampak bagi masyarakat.
Dalam konteks tersebut, UPN “Veteran” Yogyakarta memandang sinergi dengan BRIN sebagai peluang untuk mengembangkan teknologi, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, dan memperkuat kolaborasi penelitian.
UPN Yogyakarta Tekankan Karakter dan Kemampuan Beradaptasi
Rektor UPN “Veteran” Yogyakarta, Mohamad Irhas Effendi, menyambut dorongan transformasi tersebut. Ia menilai perkembangan AI menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan kampus.
“UPN ‘Veteran’ Yogyakarta berkomitmen memperkuat SDM yang memiliki learning agility, sehingga mampu belajar, beradaptasi, dan merespons perubahan dengan cepat. Penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan karakter, kepemimpinan, integritas, dan wisdom,” ujar Irhas.
Menurutnya, perubahan juga perlu menyentuh cara dosen mendampingi mahasiswa. Di tengah kemudahan mengakses informasi, dosen dituntut membantu mahasiswa mengembangkan pemikiran kritis serta menumbuhkan kepekaan sosial.
“Dosen ke depan bukan hanya lecturer, tetapi juga harus menjadi fasilitator dan inspirator. Teknologi dapat membantu proses pembelajaran, tetapi nilai-nilai kebangsaan, integritas, kepemimpinan, dan kepekaan sosial harus tetap menjadi bagian penting dari pendidikan,” ungkapnya.
Sebagai Kampus Bela Negara, UPN “Veteran” Yogyakarta menempatkan penguasaan teknologi sejalan dengan pembangunan karakter. Kampus tersebut berkomitmen mengembangkan riset yang relevan dengan kebutuhan bangsa serta memperluas jejaring nasional dan internasional untuk meningkatkan dampak penelitian.

